LATAR BELAKANG
Kota Palembang sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi pariwisata yang signifikan dengan beragam objek wisata yang tersebar di berbagai wilayah. Sebagai salah satu kota tertua di Indonesia dan bekas ibu kota Kerajaan Sriwijaya, kota ini memiliki daya tarik wisata mulai dari wisata sejarah dan budaya, wisata air (sungai), wisata kuliner, hingga wisata modern yang dapat menjadi penggerak perekonomian daerah. Namun, pengembangan sektor pariwisata tidak hanya bergantung pada ketersediaan objek wisata semata, melainkan juga memerlukan dukungan infrastruktur transportasi yang efisien untuk memudahkan aksesibilitas wisatawan.
Salah satu permasalahan yang sering dihadapi dalam pengembangan pariwisata adalah kurangnya informasi mengenai rute perjalanan yang optimal untuk mengunjungi berbagai objek wisata. Wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, seringkali mengalami kesulitan dalam merencanakan perjalanan yang efisien dari segi waktu, jarak, dan biaya. Kondisi ini dapat mengurangi kepuasan wisatawan dan pada akhirnya berdampak pada penurunan kunjungan wisata ke daerah tersebut. Terlebih lagi, Kota Palembang memiliki karakteristik unik dengan adanya Sungai Musi yang membelah kota, sehingga memerlukan pertimbangan khusus dalam analisis rute, termasuk ketersediaan jembatan dan akses lintasan sungai. Oleh karena itu, diperlukan suatu analisis yang komprehensif untuk menentukan rute transportasi wisata yang optimal di Kota Palembang.
Analisis rute optimal dalam konteks pariwisata bertujuan untuk menemukan jalur terbaik yang menghubungkan berbagai objek wisata dengan mempertimbangkan berbagai parameter seperti jarak tempuh, waktu perjalanan, kondisi jalan, aksesibilitas, serta titik-titik kemacetan yang sering terjadi di pusat kota. Dengan menggunakan algoritma network analysis pada QGIS, dapat dihasilkan rekomendasi rute yang paling efisien untuk dikembangkan sebagai paket wisata atau sebagai panduan bagi wisatawan independen. Hal ini tidak hanya menguntungkan wisatawan, tetapi juga dapat membantu pemerintah daerah dan pelaku usaha pariwisata dalam menyusun strategi pengembangan destinasi wisata yang lebih terarah.
Penelitian ini menganalisis 14 objek wisata utama di Kota Palembang untuk menentukan rute transportasi wisata yang optimal menggunakan QGIS. Keempat belas objek wisata tersebut terdiri dari ikon kota seperti Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak (BKB), Pulau Kemaro, Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II, Kampung Kapitan, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Taman Kambang Iwak, Pasar 16 Ilir (pusat kuliner dan oleh-oleh), Alun-Alun Kamboja, Monumen Perjuangan Rakyat, Taman Wisata Alam Punti Kayu, Wahana Waterboom Jakabaring, Sport Center Jakabaring, serta Dermaga Wisata Sungai Musi. Pemilihan keempat belas objek wisata tersebut didasarkan pada popularitas, sebaran geografis (meliputi daerah Seberang Ulu, Seberang Ilir, dan sekitarnya), serta potensi pengembangan sebagai paket wisata terpadu berbasis darat dan sungai. Dengan mengimplementasikan analisis jaringan berbasis SIG, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis dalam bentuk rekomendasi rute wisata yang efisien, serta memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan metodologi analisis rute berbasis SIG untuk sektor pariwisata, khususnya pada kota berciri khas sungai besar seperti Palembang.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi Dinas Pariwisata Kota Palembang dan Dinas Perhubungan Kota Palembang dalam menyusun kebijakan pengembangan infrastruktur transportasi wisata, membantu tour operator dalam merancang paket wisata yang lebih efisien (termasuk paket wisata darat dan sungai), serta memberikan informasi yang bermanfaat bagi wisatawan dalam merencanakan perjalanan.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Lokasi penelitian berada di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, dengan fokus pada sebaran 14 objek wisata utama yang tersebar di wilayah administratif kota. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari :
-
1.Data spasial dan data batas administrasi Kota Palembang
-
2.Data jaringan jalan
-
3.Data lokasi 14 objek wisata
-
4.Data lokasi Jembatan Ampera sebagai titik awal.
Analisis rute optimal dilakukan menggunakan metode Network Analysis dengan teknik Shortest Path (Point to Point) pada QGIS. Parameter yang digunakan meliputi koordinat hotel sebagai titik awal, koordinat 14 objek wisata sebagai titik tujuan, kriteria optimasi berdasarkan jarak terpendek, layer jaringan jalan sebagai network dataset, dan pengaturan arah perjalanan sesuai sistem jalan. Proses analisis dimulai dengan memasukkan layer jaringan jalan, menentukan Jembatan Ampera sebagai start point dan setiap objek wisata sebagai end point.
Setelah pemetaan di QGIS selesai, hasil analisis diekspor dalam format shapefile kemudian diimpor ke platform Geo MAPID. Pada platform Geo MAPID, dilakukan konfigurasi tampilan layer, popup information, dan styling untuk menghasilkan web map interaktif yang mudah diakses. Keberhasilan penelitian ini diukur berdasarkan beberapa indikator, yaitu terbentuknya rute optimal yang menghubungkan Jembatan Ampera dengan 14 objek wisata, tersedianya informasi jarak dan waktu tempuh untuk setiap segmen rute, terbentuknya visualisasi peta interaktif pada platform Geo MAPID, serta rute yang dihasilkan dapat divalidasi dan diterapkan secara praktis di lapangan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data objek wisata yang ada di Kota Palembang dapat dilihat pola persebaran lokasi 14 wisata yang akan dikunjungi serta lokasi Jembatan Ampera sebagai titik awal. Peta tersebut disajikan dalam bentuk peta digital di dalam platform Geo MAPID. Setiap titik objek wisata memiliki informasi atau data atribut yang terdiri dari nama tempat wisata, alamat dan juga letak koordinat yang memudahkan wisatawan untuk melihat pola persebaran dan menentukan urutan kunjungan lokasi wisata terbaik di Kota Palembang. Berikut adalah deskripsi singkat mengenai 14 objek wisata dalam penelitian ini :
Jembatan Ampera yang menjadi ikon Kota Palembang sekaligus titik awal perjalanan wisata terletak di tengah Kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ilir dan Seberang Ulu. Jembatan dengan panjang 1.177 meter ini dibangun pada tahun 1962 dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan dengan menawarkan pemandangan Sungai Musi yang megah, terutama saat jembatan di malam hari dengan cahaya lampu yang berwarna-warni.
Pulau Kemaro terletak di tengah Sungai Musi, berjarak sekitar 15 menit perjalanan dari Dermaga Benteng Kuto Besak menggunakan perahu wisata. Pulau ini terkenal dengan pagoda bertingkat, kelenteng, serta makam Putri Gading Cempaka dan Tan Bun An, yang menjadi destinasi wisata religi dan budaya dengan perpaduan akulturasi Tionghoa dan Palembang, terutama ramai dikunjungi saat Perayaan Cap Go Meh.
Benteng Kuto Besak (BKB) berlokasi di tepi Sungai Musi, Seberang Ilir, tepatnya di Jalan Merdeka, 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil. Benteng peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam ini dibangun pada abad ke-18 dan kini menjadi kawasan wisata sejarah dengan tembok benteng yang kokoh, taman terbuka, serta dermaga wisata yang menawarkan pemandangan langsung ke Jembatan Ampera dan Sungai Musi.
Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Agung Palembang terletak di Jalan Sudirman, Seberang Ilir, berseberangan dengan Benteng Kuto Besak. Masjid bersejarah yang dibangun pada tahun 1738 ini memiliki arsitektur perpaduan gaya Melayu, Jawa, Tionghoa, dan Eropa, dengan kubah hijau khas dan bedug raksasa berusia ratusan tahun yang masih digunakan hingga kini.
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II berlokasi di Jalan Sudirman, 19 Ilir, Bukit Kecil, tepat di kompleks kawasan Benteng Kuto Besak. Museum ini menempati bekas rumah residen Belanda dan menyimpan berbagai koleksi sejarah Kesultanan Palembang, mulai dari arsitektur, perhiasan kesultanan, naskah kuno, hingga replika pakaian Sultan SMB II.
Tugu Ikan Belido terletak di kawasan simpang empat Jalan Letjen Soeprapto, Jalan Merdeka, Jalan POM IX, dan Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan 19 Ilir. Tugu dengan patung ikan belido (ikan khas Sungai Musi) ini menjadi landmark strategis yang berada tidak jauh dari kawasan Benteng Kuto Besak dan sering dijadikan titik berkumpul wisatawan sebelum menjelajahi kawasan Seberang Ilir.
Rumah Saudagar Ong Boen Tjit berlokasi di Jalan Letnan Suwarni, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I. Rumah saudagar kaya raya peninggalan tahun 1930-an ini merupakan bangunan cagar budaya dengan arsitektur perpaduan gaya Eropa, Tionghoa, dan Palembang, yang masih mempertahankan keaslian bentuk dan ornamennya hingga saat ini.
MONPERA (Monumen Perjuangan Rakyat) terletak di Jalan Merdeka, 19 Ilir, Bukit Kecil, berseberangan dengan Benteng Kuto Besak. Monumen berbentuk lingga yoni setinggi 17 meter ini dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Palembang dalam mempertahankan kemerdekaan, dilengkapi dengan museum mini dan diorama sejarah.
Taman Kambang Iwak Besak berlokasi di Jalan Kambang Iwak, 13 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I. Taman wisata air berbentuk kolam renang umum berukuran raksasa yang telah berdiri sejak zaman kolonial Belanda ini menawarkan kolam renang dengan air langsung dari Sungai Musi yang disaring, serta dilengkapi dengan arena bermain anak, taman hijau, dan spot foto menarik.
Museum Bayt Al-Qur'an Al-Akbar terletak di Jalan Pangeran Ratu, Kelurahan 8 Ilir, Kecamatan Ilir Timur III, berdekatan dengan Islamic Centre Palembang. Museum ini merupakan pusat studi dan konservasi Al-Qur'an dengan koleksi lebih dari 100 mushaf Al-Qur'an kuno dari berbagai penjuru dunia, termasuk mushaf raksasa berukuran 1,5 x 2 meter yang menjadi daya tarik utama.
Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya berlokasi di Bukit Siguntang, Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I. Kawasan cagar budaya ini diyakini sebagai situs peninggalan Kerajaan Sriwijaya dengan temuan arca-arca Buddha, batu prasasti, serta stupa purbakala, yang dikemas dalam bentuk taman arkeologi terbuka yang asri dan edukatif.
Kampung Kapitan 7 Ulu terletak di Jalan Kapitan, Lorong Kapitan, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I. Kampung heritage yang masih mempertahankan arsitektur rumah tradisional Palembang dengan panggung kayu khas ini merupakan perkampungan tua bersejarah dengan suasana Sungai Musi yang otentik, serta menjadi pusat kuliner tradisional seperti pempek, tekwan, dan model.
Masjid Al-Islam Muhammad Cheng Hoo berlokasi di Jalan Jakabaring, Kelurahan 8 Ilir, Kecamatan Ilir Timur III, tidak jauh dari kawasan Jakabaring Sport City. Masjid dengan arsitektur bernuansa Tionghoa khas Masjid Cheng Hoo ini memiliki dominasi warna merah, hijau, dan kuning, dengan ornamen naga dan burung hong yang menjadi simbol akulturasi Islam dan budaya Tionghoa di Palembang.
Jakabaring Sport City (JSC) terletak di Jalan Gubernur H. Bastari, Kelurahan 8 Ilir, Kecamatan Ilir Timur III. Kawasan olahraga terpadu seluas 275 hektar ini merupakan venue utama PON XVI tahun 2004 dan Asian Games 2018, dengan fasilitas Gelora Sriwijaya Stadium, Jakabaring Lake, waterboom, arena panahan, velodrome, serta area terbuka hijau yang kini menjadi destinasi wisata olahraga dan rekreasi keluarga.
Dengan titik awal perjalanan dari Jembatan Ampera yang berada di pusat kota dan menjadi ikon utama Palembang, penelitian ini akan menganalisis jaringan jalan dan jalur sungai (untuk akses ke Pulau Kemaro) yang menghubungkan ke-14 objek wisata tersebut untuk menentukan rute transportasi wisata yang optimal menggunakan QGIS.
Berdasarkan hasil analisis jaringan menggunakan metode shortest path pada QGIS, diperoleh rute kunjungan optimal yang dimulai dari Jembatan Ampera sebagai titik awal. Urutan kunjungan dirancang dengan prinsip nearest neighbor untuk meminimalkan total jarak tempuh, dengan mempertimbangkan lokasi geografis setiap objek wisata serta konektivitas jaringan jalan dan sungai di Kota Palembang. Dari Jembatan Ampera, destinasi pertama yang dikunjungi adalah Benteng Kuto Besak yang berjarak sangat dekat, dilanjutkan ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang berada dalam kompleks yang sama, kemudian menuju Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (Masjid Agung) yang juga masih berada di kawasan Seberang Ilir. Setelah itu, rute berlanjut ke MONPERA yang terletak di pusat kota, lalu ke Taman Kambang Iwak Besak, dan karena Tugu Ikan Belido berada di kawasan sekitar Benteng Kuto Besak, maka destinasi ini dikunjungi setelahnya dengan rute yang efisien tanpa memutar jauh. Rute kemudian menyeberangi Sungai Musi menuju Seberang Ulu untuk mengunjungi Rumah Saudagar Ong Boen Tjit dan Kampung Kapitan 7 Ulu yang berada dalam satu kawasan budaya. Selanjutnya, wisatawan menuju Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo, kemudian menuju dermaga terdekat untuk mengunjungi Pulau Kemaro yang hanya dapat diakses melalui transportasi sungai. Setelah kembali dari Pulau Kemaro, rute berlanjut ke Jakabaring Sport City, kemudian menuju Museum Bayt Al-Qur’an Al-Akbar di kawasan Gandus, dan destinasi terakhir sebelum kembali ke Jembatan Ampera adalah Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya di kawasan Karanganyar. Dengan urutan ini, wisatawan dapat mengunjungi ke-14 destinasi secara optimal tanpa bolak-balik yang tidak perlu, memanfaatkan kluster wisata di pusat kota terlebih dahulu, kemudian menyeberang ke Seberang Ulu satu kali, dan diakhiri dengan destinasi terjauh di bagian barat dan utara Palembang sebelum kembali ke titik awal di Jembatan Ampera.
Berdasarkan hasil analisis Network Analysis menggunakan metode Shortest Path (Point to Point) pada QGIS dengan titik awal dari Jembatan Ampera, diperoleh rute optimal untuk 14 destinasi wisata di Kota Palembang. Hasil tabel menunjukkan nilai cost yang merepresentasikan jarak tempuh relatif. Rute terpendek ditempuh dari Jembatan Ampera menuju Kampung Kapitan 7 Ulu dengan cost hanya 0,00395, disusul rute menuju Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (0,00533) dan MONPERA (0,00528). Sebaliknya, rute terpanjang adalah menuju Pulau Kemaro dengan cost 0,08137, disusul Museum Bayt Al-Qur'an Al-Akbar (0,07766) dan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (0,05116). Berdasarkan nilai cost tersebut, urutan kunjungan optimal dimulai dari destinasi dengan cost terendah di kawasan pusat kota (Benteng Kuto Besak, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Masjid Agung, MONPERA, Taman Kambang Iwak Besak, Tugu Ikan Belido), kemudian menyeberang ke Seberang Ulu menuju Rumah Saudagar Ong Boen Tjit, Kampung Kapitan, dan Masjid Cheng Hoo, dilanjutkan ke Pulau Kemaro, Jakabaring Sport City, Museum Bayt Al-Qur'an, serta diakhiri Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya sebelum kembali ke Jembatan Ampera. Total akumulasi cost dari seluruh rute menunjukkan efisiensi perjalanan dengan memprioritaskan kluster wisata berjarak dekat terlebih dahulu.
KESIMPULAN
Hasil analisis menunjukkan bahwa rute optimal yang dihasilkan efisien dalam menghubungkan keempat belas objek wisata di Kota Palembang dengan mempertimbangkan jarak geografis dan konektivitas jaringan jalan serta sungai. Sebaran objek wisata yang cukup merata di berbagai wilayah Kota Palembang, mulai dari kawasan pusat kota Seberang Ilir, Seberang Ulu, hingga wilayah Gandus dan Karanganyar, memungkinkan wisatawan untuk mengunjungi beragam jenis destinasi wisata mulai dari wisata sejarah (Benteng Kuto Besak, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya), wisata religi (Masjid Agung, Masjid Cheng Hoo, Museum Bayt Al-Qur'an), wisata budaya (Kampung Kapitan, Rumah Saudagar Ong Boen Tjit), wisata sungai (Pulau Kemaro), wisata olahraga dan rekreasi (Jakabaring Sport City, Taman Kambang Iwak Besak), hingga landmark kota (Jembatan Ampera, MONPERA, Tugu Ikan Belido) dalam satu paket perjalanan yang terstruktur. Visualisasi rute pada peta memberikan gambaran yang jelas mengenai jalur perjalanan yang harus dilalui, sehingga dapat memudahkan wisatawan dalam merencanakan kunjungan mereka secara efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Informasi Geospasial. (2025). Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI). Diakses dari https://srgi.big.go.id/
Badan Informasi Geospasial. (2025). Ina-Geoportal. Diakses dari http://tanahair.indonesia.go.id
Rozadi, M. (2025). Optimalisasi Jalur Kunjungan Wisata di Kota Bandar Lampung Menggunakan Pendekatan Analisis Jaringan. Geo MAPID. Diakses dari https://geo.mapid.io/ atau https://mapid.co.id/blog
BPS Kota Palembang. (2025). Statistik Pariwisata Kota Palembang. Diakses dari https://palembangkota.bps.go.id/
Dinas Pariwisata Kota Palembang. (2025). Website Pariwisata Digital Kota Palembang. Diakses dari https://pariwisata.palembang.go.id/